Cerita Seorang WNI Yang Terpapar Kabut Racun India. Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Delhi menceritakan pengalaman langsung terpapar kabut asap beracun yang menyelimuti ibu kota India pada pertengahan Desember 2025. Wanita bernama Dita, yang baru pindah ke sana sejak Juni lalu bersama keluarga, mengalami gejala kesehatan seperti mata perih, napas berat, tenggorokan gatal, serta asma yang kambuh. Kondisi ini semakin parah sejak akhir Oktober, ketika polusi mulai menebal, dan mencapai puncak pada 15 Desember dengan indeks kualitas udara mencapai 471—kategori parah yang berbahaya bagi kesehatan. Kabut asap ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tapi juga memaksa banyak warga, termasuk Dita, untuk membatasi keluar rumah. MAKNA LAGU
Pengalaman Pribadi Dita: Cerita Seorang WNI Yang Terpapar Kabut Racun India
Dita menggambarkan bagaimana udara luar terasa menyengat saat keluar rumah. Mata langsung perih, napas menjadi tidak enak dan berat, serta tenggorokan cepat gatal hingga memicu batuk dan bersin alergi. Asmanya yang sempat terkendali kini sering kambuh, terutama saat harus menjemput anak dari sekolah. Untuk melindungi diri, ia selalu memakai masker N95 saat keluar dan memasang pembersih udara portabel di mobil. Di rumah, ia mengandalkan pembersih udara untuk menjaga kualitas dalam ruangan. Awalnya, saat tiba di musim monsoon Juni-Juli, cuaca masih bersih dengan hujan rutin. Namun, sejak akhir Oktober, kabut polusi tipis-tipis mulai muncul dan semakin pekat menjelang Desember, membuat langit selalu kelabu.
Dampak Polusi di Delhi: Cerita Seorang WNI Yang Terpapar Kabut Racun India
Kabut asap ini bukan hal baru di Delhi, tapi tahun ini termasuk yang terburuk. Penurunan suhu musim dingin menjebak polutan dari emisi kendaraan, pembakaran sisa panen petani di sekitar, serta aktivitas industri dan konstruksi. Indeks kualitas udara sering melampaui 400, jauh di atas batas aman, menyebabkan lonjakan pasien dengan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kesehatan lain. Sekolah-sekolah beralih ke pembelajaran daring, proyek konstruksi dilarang sementara, dan aktivitas luar ruangan dibatasi. Jarak pandang rendah mengganggu transportasi, dengan banyak penerbangan dan kereta tertunda. Bagi expat seperti Dita, adaptasi jadi tantangan besar, terutama dengan anak kecil yang rentan terhadap paparan jangka panjang.
Langkah Penanganan dan Harapan
Pemerintah setempat menerapkan pembatasan ketat, seperti larangan konstruksi dan penggunaan generator diesel, serta mendorong kerja dari rumah. Beberapa upaya seperti penyemprotan air untuk menekan debu juga dilakukan, meski solusi jangka panjang masih diperlukan. Dita dan keluarga berusaha sebisa mungkin tetap di dalam ruangan, tapi rutinitas harian seperti sekolah anak tetap memaksa mereka terpapar. Ia berharap kondisi segera membaik, terutama agar anak-anak tidak terus-menerus menghirup udara berbahaya. Banyak warga, termasuk komunitas expat, saling berbagi tips perlindungan seperti penggunaan masker dan pembersih udara.
Kesimpulan
Cerita Dita mencerminkan realitas ribuan penduduk Delhi yang terjebak dalam kabut asap beracun setiap musim dingin. Paparan polusi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga mengancam kesehatan jangka panjang, terutama bagi pendatang baru. Meski ada upaya penanganan darurat, masalah ini menunjukkan perlunya solusi berkelanjutan untuk mengurangi sumber polusi. Bagi WNI di sana, adaptasi dengan alat pelindung jadi kunci bertahan, sambil menantikan perbaikan kualitas udara yang lebih baik di masa depan. Kejadian ini juga jadi pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan di kota-kota besar.